“Perselingkuhan, gausah deh main api” ucap Mauline.
Aku tertawa, Mauline satu satunya temanku yang terlalu melankolis, dan sangat perasa. Sama sepertiku, dia bisa care too much.
“Rokok dulu ah, minum kopi, makan cupcakes, ngelamun”
“Gak di dunia kedua, gak di dunia pertama lu B! Ngeroko mulu sama aja!”
Bawel, dan menyebalkan. Lemot, ceplas ceplos, itu alasan aku berteman dengannya.
“Ya enggaklah pake otak dikitlah! Jatuh cinta kok sama avatar hahaha” kataku sambil tertawa puas sekali.
Lalu kami duduk bertiga, aku, Mauline dan Tuan Jonas Flamming, didepan pizza panas di sebuah kafe di mall dikota Bandung. Hilang nafsu makanku, kok jadi begini? Jalan ceritanya? Harusnya bukan begini skenarionya?
“Lu overthinking B!” Mauline pun nyerocos tak karuan.
Brengsek, bukan gini mestinya jalan ceritanya. Lalu sayup sayup terdengar suara-suara orang-orang dengan mulut keji mereka.
“Jonas Flamming tuh ga ada masa depannya, ini dunia nyata. Lu mau makan apa nanti? Lu pake otak dikit dong, cuma dimanfaatin doang”
“Jonas Flamming gak secharming yang lu bayangkan”
“Jonas Flamming pake ilmu hitam”
“Jonas Flamming gak sayang tapi ada yang dia mau dari elu”
“Lu lama lama ama dia ancur hidup lu”
“Jonas Flamming itu”
Bangsat!
“Jonas Flamming itu bangsaaaaaaaaaaaatttttt, Ifan! Aku gak pernah nyangka, ini toh yang dia lakuin ke aku. Bangsaaat, bajingan, jahat banget dia” aku menangis sejadi jadinya.
Itu dulu. Kami pun kembali duduk bertiga, didepan pizza yang sudah hampir dingin.
“Cuma satu, kita gak punya masa depan” kataku.
“Masa depan itu bisa dicari, liat dia B. Kerja, dia bikin kesalahan, ya sudah! Ada orang lain? Dia punya masa depan? Kaya gimana? Sama aja, kalo dia beneran serius minimal datengin elu dong. Ini apa kabar?” Kata-kata Mauline lebih pedas kaya cabe.
“Kalo itu yang kamu mau, yaudah. Aku yang salah. Kalo buat kebaikan kamu” cuma itu yang keluar dari mulut Jonas Flamming.
“Ngapain sih gue dipaksa jadi saksi mata kaya gini” kata Mauline ketus.
Aku membuka laptopku, setengah sadar, kubaca status facebook Mauline: “I find it cute when bestfriends act like couple for Mr. J and Blanche Bordeoux”
Kami hidup di dunia nyata, Mauline. Dunia nyata menuntut kami, menampar kami, tidak ada namanya suatu hari, tidak ada namanya mimpi, tidak ada yang peduli tentang harapan kosong, kami hidup di dunia nyata Mauline, segalanya berembel-embel materi. Kami hidup di dunia nyata Mauline, dan kami tau kamu mengerti ada apa di balik kata-kata ini.